Islam mengajarkan untuk hidup mengharap ridho Allah

Pada umumnya, bila seorang laki-laki dewasa ditanya tentang hidup untuk apa kemungkinan akan dijawab hidup untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Kalau seorang wanita yang sudah berkeluarga ditanya dengan pertanyaan yang sama akan menjawab, dia hidup untuk mengabdi pada suami dan anak-anaknya. Alasan hidup seperti ini masih berputar-putar untuk duniawi saja, sudah punya alasan untuk hidup tapi belum mencari bekal untuk akhirat. Yang masih muda dan belum menikah biasanya sibuk dengan kegiatan belajar atau berkumpul dengan teman-temannya belum banyak memikirkan alasan untuk hidup, asal bisa ketawa saja sudah senang.

Hidup di dunia ini menurut ajaran Islam yang benar adalah untuk mengharap ridho Allah. Dalam berdoa dengan mengikuti ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yaitu “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar” kita memohon untuk diberi kebaikan dunia dan akhirat. Manusia yang tawakkal dan bertakwa Insya Allah akan mendapatkan kecukupan dan ketrentaman hidup di dunia, ditambah kebahagiaan tak terbatas hidup kekal di akhirat. Semua akan didapatkan bila hidup untuk mengharap ridho Allah.

Ridho(رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya. Orang yang mengharap ridho Allah tidak akan membenci kejadian yang terjadi pada dirinya, ia akan percaya apa yang menimpanya adalah yang terbaik bagi dirinya. Orang yang mencari ridho orang lain yang membawa kemurkaan Allah akan dimurkai Allah, tapi yang mencari ridho Allah walaupun awalnya dicela orang lain, bila mau bersabar akhirnya orang lain juga akan ridho padanya.

Semoga kita termasuk golongan manusia beriman, bertakwa dan tawakkal. Yang hidup untuk mengharap ridho Allah sehingga dicukupkan hidupnya oleh Allah di dunia ini dan diberi kebaikan dunia dan akhirat…

Allah berfirman
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al Fath : 18)

Allah berfirman
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS. An Nisaa : 114)

Allah berfirman
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Al Baqarah : 201)

Allah berfirman
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath Thalaaq : 2-3)

Islam mengajarkan untuk bersyukur

Kata untuk bersyukur sekarang sedang mewabah, saat ini ada artis penyanyi wanita cantik yang identik dengan ucapannya “Alhamdulillah, yah”. Tapi tentunya syukur tidak hanya sekedar diucapkan di mulut saja, tapi juga diresapi dalam hati, dan diamalkan dalam perbuatan. Selain itu, hal yang tidak mudah adalah tetap bersyukur saat mendapat musibah. Misalnya kehilangan dompet yang ada uangnya, tetap bisa mengambil hikmah, dan bisa tetap bersyukur karena fisiknya tidak terluka saat kehilangan dompet. Wajar awalnya kaget bila mendapat musibah, tapi segera bisa segera mengontrol diri untuk mengambil hikmah dari musibah ini.

Manusia diciptakan mempunyai mata, telinga, dan hati agar bisa melihat, mendengar dan memahami akan tanda-tanda kekuasaan Allah. Manusia agar mencari rejeki yang halal dari karunia yang diberikan oleh Allah. Menyembahlah pada Allah, dan mintalah rezeki pada Allah, lalu syukurilah atas semua yang diterima. Manusia diperintahkan oleh Allah untuk selalu mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah, tetapi ternyata tidak banyak manusia yang bersyukur, itu karena janji Iblis akan menyesatkan manusia agar tidak bersyukur. Manusia beriman yang ikhlas tidak akan mudah tertipu oleh bisikan setan anak buah Iblis. Manusia yang beriman akan selalu berusaha bersyukur dalam keadaan apapun.

Syukur (شُكُوْر) adalah pujian pada Allah sebagai ungkapan terima kasih, dari hati, lisan dan perbuatan. Janji Allah adalah, bagi yang selalu bersyukur atas segala pemberian Allah akan ditambah nikmat hidup ini, dan bagi yang mengingkari nikmat Allah akan mendapat azab yang perih.

Semoga kita semua termasuk orang beriman yang selalu bersyukur akan karunia yang diberikan Allah, sehingga Allah akan memberikan nikmat lebih pada hidup kita…

Allah berfirman
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl : 78)

Allah berfirman
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”. (QS. Al Araf : 16 -18)

Allah berfirman
Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al Ghaafir : 61)

Allah berfirman
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. An Nahl : 114)

Allah berfirman
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (QS. Al ‘Ankabut : 17)

Allah berfirman
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. Luqman : 31)

Allah berfirman
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)

Islam mengajarkan untuk ikhlas

Kata ikhlas sebegitu mudahnya diucapkan. Misalnya ada seorang laki-laki memberi perhiasan mahal pada seorang wanita yang ditaksirnya lalu mengatakan “aku ikhlas memberikan perhiasan ini padamu” tapi saat wanita ini menolak cintanya dia meminta dikembalikan perhiasannya berarti belum ikhlas benar. Atau seorang wanita yang berbaju seksi mengatakan pada kekasihnya “aku memakai baju seksi ini ikhlas lho”, namanya bukan ikhlas karena memakai baju seksi bukan ajaran Islam yang benar.

Ikhlas (إِخْلاص) berarti berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas bisa diartikan memurnikan tujuan amal hanya pada Allah, tanpa berharap imbalan dari orang lain dalam bentuk apapun termasuk pujian, serta tidak ada keinginan menarik kembali yang telah dilakukan. Di dalam ajaran Islam, ikhlas adalah salah satu syarat untuk mendapatkan pahala dari Allah. Tentunya ikhlas dalam melakukan ibadah dan perbuatan sesuai ajaran Islam yang benar.

Apabila manusia sudah berusaha ikhlas, (banyak yang ragu belum tahu sudah ikhlas atau belum, paling tidak berusahalah) maka Insya Allah hidupnya akan dimudahkan oleh Allah. Dimudahkan tidak selalu mempunyai uang banyak, tapi merasa kecukupan dengan hal yang dimilikinya dan hatinya tenang. Dan Allah akan memberi rejeki dan ketenangan pada siapapun yang Allah kehendaki, salah satunya pada yang selalu berusaha untuk ikhlas dalam mengerjakan perbuatan baik, beribadah dan menyedekahkan sebagian hartanya pada yang membutuhkan.

Orang yang beriman pasti akan berusaha selalu ikhlas dalam seluruh perbuatannya. Semoga kita termasuk golongan orang beriman yang ikhlas dalam melaksanakan shalat dan melaksanakan sedekah…

Allah berfirman
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al An’am : 162)

Allah berfirman
Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.(QS. An-Nisaa : 146)

Allah berfirman
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)

Allah berfirman
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. Al Fath : 4)

Allah berfirman
Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. Ar Ra’du : 26)

Bisakah kita merubah takdir?

Bila kita bicara masalah takdir, berarti membicarakan tentang qadha’ dan qadar yang merupakan rukun Iman ke-6. Para ulama mengatakan, qadha adalah ketentuan yang bersifat umum dan global sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian dan perincian-perincian dari ketentuan tersebut, atau kejadian yang mengikutinya. Maksud zaman azali adalah tertulis di kitab Lauh Mahfudz sejak 50 ribu tahun yang lalu, jadi qadha sudah ada terlebih dahulu baru qadar. Takdir yang merupakan qadha dan qadar adalah rahasia Allah, dan tidak ada manusia yang bisa menghindarinya bila sudah ditetapkan.

Allah berfirman
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al An’am 59)

Allah berfirman
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Lukman : 34)

Dan tentang takdir, apakah kita bisa merubah takdir? Ada takdir yang tidak bisa dirubah seperti kematian, tapi ada pendapat bahwa takdir itu bisa berubah, dari takdir satu ke takdir yang lain. Untuk merubah dari takdir yang satu ke takdir yang lain antara lain dengan do’a dan ikhtiar.

Allah berfirman
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar Ra’du : 11)

Allah berfirman
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfudzh).(QS. Ar Ra’du : 39)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi)

Tentang takdir ini semua adalah rahasia Allah, ada hal yang manusia tidak perlu mengetahuinya. Untuk selamat dunia dan akhirat, manusia perlu selalu belajar untuk memahami ajaran Islam menurut al Qur’an dan as Sunnah, memahami dan mengamalkan. Manusia beriman dan bertakwa adalah manusia yang selalu berprasangka baik untuk menjalani semua ketentuan Allah baik ditimpa kesedihan atau kesenangan, beranggapan semua adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Bersabar bila mendapat musibah dan bersyukur mendapat kesenangan, tetap selalu mendirikan shalat dan berbuat kebajikan apapun yang menimpanya dengan ikhlas lilahita’ala.

Manusia tidak bisa merubah takdirnya. Tapi bila Allah sudah berkehendak maka keadaan seseorang bisa dirubah, apa menjadi lebih baik atau buruk tergantung bagaimana sikapnya menjalani kehidupan. Semoga kita termasuk golongan manusia beriman dan bertakwa yang tetap selalu berprasangka baik dan menjalankan perintah Allah dengan ikhlas lilahita’ala apapun takdir yang kita jalani…

Kenapa sebaiknya GIVE AND RECEIVE bukan TAKE AND GIVE?

Akhir-akhir aku sering membaca artikel yang menyatakan lebih baik menggunakan kalimat Give and Receive dibanding Take and Give. Maksudnya dari Give and Receive adalah, apabila membantu orang lain yang membutuhkan, maka kita akan menerima ganti berlipat-lipat dari kebaikan itu. Sedangkan Take and Give adalah istilah menerima dan memberi, jadi mengesankan mesti menerima dulu baru bisa memberi.

Bila kita bekerja, maka sebetulnya di rejeki kita ada hak dari fakir miskin atau orang dekat dengan kita yang sedang membutuhkan. Memang benar anak yatim dan fakir miskin mesti disantuni, tetapi apabila membantu keluarga dekat akan dapat pahala ganda, pahala silaturahmi dan pahala sedekah.

Orang yang uangnya berlebih, kebanyakan (tidak semua) sulit untuk menyumbang uang untuk membantu orang lain. Begitu untuk keperluan senang-senang, berapapun dikeluarkan. Alasannya kerja itu stres, memangnya gak boleh bersenang-senang, padahal uangnya ada. Andai mereka tau, bahwa uang yang dipakai untuk jajan makanan enak, menyenangkan diri sendiri tidak akan bermanfaat untuk akhirat. Uang baru bermanfaat bila digunakan untuk memberi makan pada orang yang kesulitan untuk bisa makan.

Rejeki orang memang berbeda-beda, dan itulah ujiannya manusia juga sesuai dengan kemampuannya. Bila punya gaji 1 juta rupiah, dan dia mampu sedekah 100 ribu rupiah, tentu berbeda dengan orang yang gajinya 50 juta rupiah dan sumbangannya juga 100 ribu rupiah.

Bila kita melihat perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau menceritakan surga penuh dengan orang miskin dan tertindas. Orang kaya kemana? Orang yang uangnya berlebih mesti mempertanggungjawabkan uang dari mana dan digunakan untuk apa. Bukan berarti orang kaya tidak ada yang masuk surga, tentunya banyak, asal yang taat ajaran agama dan banyak sedekah.

Memberi pada orang lain yang membutuhkan dari segi matematika uang kita berkurang, tapi dari ilmu ikhlas lilahita’ala, akan dibalas berlipat-lipat oleh Allah. Jadi bila sedang ingin mengharapkan sesuatu, banyak-banyaklah membantu orang lain baik dengan tenaga atau materi, maka harapan kita akan mudah terkabul.

Bukan Take and Give lagi, tapi lebih baik Give and Receive…

Mensikapi ramalan

Aku pernah punya teman yang mempunyai indra ke-6, sudah lama sekali ketemunya sekitar pertengahan tahun 90an. Dia pacarnya temenku KKN, konon ceritanya dia bisa menemukan barang hilang, bisa membaca pikiran orang, dan banyak kejadian gaib lain. Dulu aku pernah iseng nanya garis tanganku ke depannya gimana. Dia banyak ngeliat kayak banyak visi di tangan temen-temenku yang lain, khusus tanganku gelap, dia gak bisa liat.

Sekarang aku sudah males dengan ramalan. Bahkan ramalan bintang aja aku anggap gak penting. Ternyata kalo bertanya pada tukang ramal shalat kita tidak diterima Allah selama 40 hari. Apalagi membenarkan ucapan seorang tukang ramal, bisa termasuk golongan kafir.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
Barangsiapa yang mendatangi paranormal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 malam. (HR. Muslim)

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
Barangsiapa yang mendatangi paranormal lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu’alaihi wa sallam-. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Tentang masa depan, menurut Al Qur’an rahasia masa depan sering dicoba dilihat oleh jin, tapi akan ada panah api yang akan melempar mereka. Jin jahat akan berusaha mendekati manusia dengan memberikan informasi tentang rahasia kehidupan, karena manusia yang sudah terpengaruh akan jadi budak jin. Manusia yang menjadi budak jin sudah ketahuan saat di akhirat akan berada dimana, yaitu di neraka.

Semoga kita bisa bijak untuk menghindari segala ramalan-ramalan, karena orang beriman tidak akan tertarik akan ramalan dan percaya begitu saja. Tapi bila ada yang mendapat visi begitu jelas tentang masa depan tanpa menggunakan ritual pemanggilan jin, maka anggap hanya sebagai dugaan bukan kepastian, tepatnya agar selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah…

Allah berfirman
dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (QS. Al Jin : 9)

Allah berfirman
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. (QS. Al Hijr : 39-43)

Yang berhak masuk ke surga

Yang berhak masuk surga menurut Al Qur’an

Orang yang beriman dan beramal shalih (QS. 2: 25)
Wali-wali Allah, orang-orang yang beriman dan bertakwa (QS.Yunus: 62-64)
Orang yang istiqamah dalam menghamba (QS. Fushilat: 30)
Pengikut kebaikan (QS. Az-Zumar: 17-18)
Orang yang beriman, berhijrah dan berjihad (QS. At-Taubah: 20-21)
Orang yang mengindahkan peringatan Allah (QS. Yasin: 11)
Mumin (QS. Al-Ahzab: 45-47)
Syuhada (Ali Imran: 169)
Orang yang berjual beli dengan Allah (QS. At-Taubah: 111)
Orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Orang yang khusyu dalam shalat, menjauhi hal yang sia-sia, muzaki, menjaga farji, amanah (QS. Al-Muminun: 1-11)
Muslim-muslimah yang taat, jujur, sabar, khusyu, bershadaqah, berpuasa, menjaga farj, rajin berdzikir (QS. Al-Ahzab: 35)
Orang yang bertaubat, memuji Allah, melawat, sujud, amar maruf nahi munkar, memelihara hokum-hukum Allah (QS. At-Taubah: 112)
Orang yang berinfaq saat lapang/sempit, menahan amarah, pemaaf, istighfar (QS. Ali Imran: 133-136).
Beriman dan berjihad (QS. Ash-Shaf: 10-13)
Orang yang takut kepada Allah (QS. Ar-Rahman: 46)
Orang yang menahan hawa nafsu (QS. An-Naziat: 40-41)

Allah berfirman:
Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan. (QS. Al-A’raf : 43)

Allah berfirman:
Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?” Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?” Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. jikalau tidaklah karena ni’mat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). QS. Ash-Shaaffat : 51 -57)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda
Sesungguhnya bagi setiap mukmin di surga disiapkan kemah dari suatu mutiara lu’lu yang berongga. Tingginya 60 mil. Di dalamnya terdapat keluarganya dan orang beriman berjalan mengelilingi mereka. Sebagian mereka tidak bisa melihat sebagian yang lain (HR Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
Buah buahan disurga seperti anggur, ia lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, lebih halus dari tepung dan didalamnya tidak ada biji. Adapun tanaman disurga, setelah benihnya disebar, maka tumbuh dalam sekejap dan siap panen panen saat itu juga(HR.Bukhari)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
penghuni surga akan makan dan minum enak-enak, mereka tidak mengeluarkan ingus dari hidungnya, tidak buang air besar dan buang air kecil. Makanan mereka berubah menjadi sendawa yang beraroma kasturi (HR.Muslim)

dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha

Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya. (HR. Ath-Thabrany)

Bagian tubuh yang paling penting untuk dijaga adalah qalb (hati)

Iklan di tivi mempromosikan macam-macam produk. Ada susu kalsium supaya tidak kena osteoporosis. Ada vitamin E alami supaya kulit kelihatan muda. Havermut atau oat agar jantung tetap sehat dan macam-macam lagi yang lain. Kalo mie instan sih kayaknya fungsinya sekedar mengganjal perut, kalo keseringan kurang baik.

Tapi menurut Islam bagian yang perlu dijaga adalah segumpal daging di dada. Ternyata penyebutan segumpal daging ini bisa berbeda-beda. Dalam bahasa Inggris segumpal daging ini disebut sebagai heart atau jantung. Segumpal daging kadang juga diterjemahkan menjadi segumpal darah. Malah ada analisa mengatakan segumpal daging ini adalah otak.

Tapi sepertinya bukan otak, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dirobek dadanya oleh malaikat jibril, lalu ada segumpal daging yang dicuci dengan air zam-zam. Setelah itu dimasukkan keimanan dan hikmah yang tadinya berada dalam bejana emas ke dalam qalbu. Isi dadanya kemudian disusun, ditutup tanpa ada bekasnya.

Mau disebut qalb, atau hati, yang penting kita paham bahwa ada di sesuatu di dada yang perlu dijaga. Yang bisa merasakan bahagia, sedih, galau, kesel, marah dan perasaan yang lain. Cara membersihkannya di antaranya adalah dengan berusaha menjaga emosi, menjaga hawa nafsu, dan banyak mengingat Allah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Ketahuilah, di dalam jasad ada segumpal daging (mudzghah) yang jika baik daging itu maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika jelek daging itu maka jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah daging itu adalah hati (qalb).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh dan rupamu, tetapi Dia melihat kepada hatimu” sambil Beliau mengarahkan jari-jariNya ke dadanya (HR. Muslim).

Allah berfirman
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah[2] : 284)

Berilmu tapi tersesat (orang munafik)

Ada hal mengherankan aku, ada orang yang berilmu tinggi, ilmu agama tapi masih bisa tersesat. Bagaimana mungkin, bukannya mereka paling paham dengan ajaran Islam yang mengajarkan tentang kebaikan. Mereka sering mengutip ayat Al Quran, mengutip hadis, tapi hidupnya digunakan untuk menjerumuskan orang lain. Seharusnya orang yang mengamalkan kandungan ayat Al Qur’an selalu berusaha menyebarkan kebaikan pada orang lain, takut menyakiti hati orang lain, dan berusaha membagikan sebagian penghasilannya di jalan Allah, diberikan pada orang yang lebih membutuhkan.

Ustad Arifin Ilham pernah kasih trik untuk membedakan seorang ahli agama yang istiqomah dan tersesat. Caranya adalah dengan menunggu di depan rumahnya saat Shubuh. Kalo ahli agama ini keluar rumah, menuju masjid untuk shalat Shubuh berarti benar istiqomah. Sebaliknya bila tetap tidur, berarti dia ini seorang yang ilmu agamanya hanya dipake untuk riya’, disombongkan saja. Atau bisa jadi ahli agama ini menggunakan ilmunya untuk meyakinkan orang lain agar memberikan uangnya. Ngakunya saking tinggi ilmunya, mereka batinnya saja yang shalat. Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam rajin melakukan shalat sampai kakinya bengkak-bengkak.

Sulit diterima logika, bagaimana mungkin seorang yang sepertinya memahami Al Quran bisa tersesat, bahkan aku juga. Orang awam pasti mengatakan tidak mungkin dia menipu, soalnya menggunakan ayat-ayat Al Qur’an. Bukannya Al Qur’an adalah panduan agar manusia bisa ke jalan yang lurus. Tapi belakangan aku mulai mengerti, bahwa mereka yang memanfaatkan Al Quran tapi tersesat itu mencari jalan pintas. Misalnya ada NII (Negara Islam Indonesia), yang mencuci otak korbannya dan menanamkan nilai dari Al Qur’an dengan versi mereka. Bahwa kalo ingin masuk surga uang keluarganya halal untuk dicuri, baru bermanfaat bila digunakan untuk kepentingan NII. Apa mereka tersesat, banyak yang berpendapat begitu setelah ada gadis yang ditemukan dalam keadaan linglung karena dicuci otak oleh NII.

Menurut Al Qur’an, orang yang punya ilmu, mengetahui tentang ajaran Al Qur’an tapi dibelokkan untuk kepentingan golongan, bahkan tega menzalimi kelompok lain adalah termasuk golongan munafik. Saat di dunia mereka sangat meyakini bahwa merekalah yang akan masuk surga, dan kelompok lain masuk neraka. Tapi setelah menjelang kematian barulah mereka dibukakan kebenaran, dan mereka mengalami ajal yang sulit, tersiksa dan menyatakan bahwa mereka ingin hidup lagi untuk memperbaiki kesalahan mereka. Tapi waktu mereka sudah habis, dan mereka akan berada di neraka paling dasar.

Allah berfirman:
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al Munafiqun : 3)

Allah berfirman:
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.

Jihad fii sabilillah

Bila ingin memahami tafsir Al Qur’an sebaiknya juga dibaca asbabun nuzul atau latar belakang cerita saat turunnya suatu ayat. Lalu juga lebih baik bila ada hadits sahih yang menguatkan pemahaman tersebut.

Jihad, bila dicermati maka kata HARTA disebut mendahului JIWA. Karena itu berjuang di jalan Allah dengan mencari nafkah secara halal, juga untuk diberikan kepada yang membutuhkan itulah yang disebut jihad. Jihad sendiri berarti BERUSAHA KERAS atau BERJUANG, tapi tidak selalu berarti berperang. Karena kaum kafir yang tidak memerangi umat Islam seharusnya tidak dilawan.

Dari WIKIPEDIA

Jihad ( جهاد ) adalah berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syariat Islam. Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi.

Allah berfirman
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Ash. Shaff : 10-11)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fi sabilillah (pejuang di jalan Allah) Azza wajalla.” (HR. Ahmad).

Apakah seorang mujahid itu identik dengan pedang dan kekerasan? Hal itu hanya berlaku di tempat kaum muslim diperangi. Di negara damai, mujahid adalah hamba Allah yang bekerja keras dengan tangannya untuk mencari nafkah halal membiayai keluarganya…

(Sumber : bapak Munichi, dosen UII Yogyakarta)