Berilmu tapi tersesat (orang munafik)

Ada hal mengherankan aku, ada orang yang berilmu tinggi, ilmu agama tapi masih bisa tersesat. Bagaimana mungkin, bukannya mereka paling paham dengan ajaran Islam yang mengajarkan tentang kebaikan. Mereka sering mengutip ayat Al Quran, mengutip hadis, tapi hidupnya digunakan untuk menjerumuskan orang lain. Seharusnya orang yang mengamalkan kandungan ayat Al Qur’an selalu berusaha menyebarkan kebaikan pada orang lain, takut menyakiti hati orang lain, dan berusaha membagikan sebagian penghasilannya di jalan Allah, diberikan pada orang yang lebih membutuhkan.

Ustad Arifin Ilham pernah kasih trik untuk membedakan seorang ahli agama yang istiqomah dan tersesat. Caranya adalah dengan menunggu di depan rumahnya saat Shubuh. Kalo ahli agama ini keluar rumah, menuju masjid untuk shalat Shubuh berarti benar istiqomah. Sebaliknya bila tetap tidur, berarti dia ini seorang yang ilmu agamanya hanya dipake untuk riya’, disombongkan saja. Atau bisa jadi ahli agama ini menggunakan ilmunya untuk meyakinkan orang lain agar memberikan uangnya. Ngakunya saking tinggi ilmunya, mereka batinnya saja yang shalat. Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam rajin melakukan shalat sampai kakinya bengkak-bengkak.

Sulit diterima logika, bagaimana mungkin seorang yang sepertinya memahami Al Quran bisa tersesat, bahkan aku juga. Orang awam pasti mengatakan tidak mungkin dia menipu, soalnya menggunakan ayat-ayat Al Qur’an. Bukannya Al Qur’an adalah panduan agar manusia bisa ke jalan yang lurus. Tapi belakangan aku mulai mengerti, bahwa mereka yang memanfaatkan Al Quran tapi tersesat itu mencari jalan pintas. Misalnya ada NII (Negara Islam Indonesia), yang mencuci otak korbannya dan menanamkan nilai dari Al Qur’an dengan versi mereka. Bahwa kalo ingin masuk surga uang keluarganya halal untuk dicuri, baru bermanfaat bila digunakan untuk kepentingan NII. Apa mereka tersesat, banyak yang berpendapat begitu setelah ada gadis yang ditemukan dalam keadaan linglung karena dicuci otak oleh NII.

Menurut Al Qur’an, orang yang punya ilmu, mengetahui tentang ajaran Al Qur’an tapi dibelokkan untuk kepentingan golongan, bahkan tega menzalimi kelompok lain adalah termasuk golongan munafik. Saat di dunia mereka sangat meyakini bahwa merekalah yang akan masuk surga, dan kelompok lain masuk neraka. Tapi setelah menjelang kematian barulah mereka dibukakan kebenaran, dan mereka mengalami ajal yang sulit, tersiksa dan menyatakan bahwa mereka ingin hidup lagi untuk memperbaiki kesalahan mereka. Tapi waktu mereka sudah habis, dan mereka akan berada di neraka paling dasar.

Allah berfirman:
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al Munafiqun : 3)

Allah berfirman:
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.

Comments are closed.

%d bloggers like this: